Di tengah euforia masyarakat atas kemenangan Timnas U19 dalam AFF Cup yang belum reda, publik sepakbola Indonesia dikejutkan dengan berita bahwa AFC, badan sepakbola Asia, menjatuhkan sanksi kepada Timnas Indonesia, timnas senior. Sanksi yang diberikan berupa laga tanpa penonton saat Timnas Indonesia menjamu China pada 15 Oktober dan Irak 19 November, 2013, dalam babak penyisihan Piala Asia. Dengan sanksi tersebut, suporter Indonesia diharamkan menyaksikan secara langsung laga timnas di stadion.Dampak dari sanksi tersebut tentu sangat berpengaruh, keinginan untuk menjadikan mereka sebagai pemain ke-12 tidak tercapai sehingga penampilan timnas bisa dikatakan pincangan tanpa dukungan suporter.Apa dasar AFC menghukum Indonesia? Penyebabnya, panitia pertandingan tidak bisa memberi rasa aman dan nyaman kepada tim dan suporter tamu saat bertandang di Indonesia. Selama pertandingan menjamu timnas dari negara lain, ulah suporter dirasa brutal dan vandal seperti melempari suporter tim tamu (saat melawan Timnas Arab Saudi), membunyikan petasan, dan memakai laser yang mengganggu konsentrasi pemain. Kejadian tersebut dikatakan bukan sekali namun sudah beberapa kali sehingga akhirnya membuat AFC menjatuhkan sanksi itu. Dengan demikian kerugian yang dialami Timnas Indonesia tidak hanya 'dikartu merahnya' pemain ke-12 hingga harus keluar stadion namun timnas juga tidak mendapat pemasukan dari sisa-sisa laga penyisihan Piala Asia. Ketika menjamu China tanpa penonton disebut panitia mengalami kerugian Rp10 miliar.Mengapa brutalisme dan vandalisme ada pada suporter Indonesia sehingga hal demikian membuat AFC menghukum timnas. Faktornya adalah, pertama, mental orang Indonesia yang tidak siap kalah. Sikap yang biasanya kita temukan dalam pesta-pesta demokrasi seperti pilkada dan pilkades rupanya juga kita temukan dalam dunia sepakbola. Bila dalam pilkada dan pilkades calon yang didukung gagal memenangi hajatan itu, pendukung yang kalah biasanya melakukan tindakan anarkhis seperti membakar gedung kabupaten, gedung DPRD, atau fasilitas umum lainnya. Demikian pula ketika kesebelasan yang didukung kalah, suporter yang ada membuat keonaran seperti melakukan pembakaran di tribun, melakukan pembakaran mobil di sekitar stadion, menyerang suporter lain, dan bila ada kesempatan menyerang wasit. Di sini tidak ada sportivitas. Dalam dunia olahraga yang penuh sportifitas, kalah-menang hal yang lumrah, yang penting nilai-nilai sportif yang dijunjung tinggi-tinggi. Sikap vandalisme dan brutalisme inilah yang membuat tim tamu merasa tak nyaman dan terancam keselamatannya. Bayangkan saja Timnas Malaysia, saat tandang di Stadion GBK, baik dalam final ASEAN Games maupun AFF Cup, saat mereka menuju ke tempat pertandingan harus dinaikkan panser. Tak hanya itu, dalam session latihan mereka tidak mau menggunakan lapangan yang disediakan, Stadion Lebak Bulus, dengan alasan keamanan mereka terganggu oleh ancaman serangan suporter Indonesia sehingga membuat Timnas Malaysia melakukan pemanasan di kebun hotel tempat menginap.Tak hanya pemain tamu yang merasa tak nyaman, suporter tamu pun demikian. Saat suporter Arab Saudi menyambangi Stadion GBK mereka merasa tak nyaman dengan sikap suporter Indonesia. Suporter Arab Saudi merasa kena getah dari kemenangan timnasnya. Ketika Timnas Arab Saudi bergembira di lapangan, setelah mencetak gol, justru kesedihan yang dialami suporternya. Mereka tidak hanya dilempari dengan bungkus minuman atau makanan namun juga dilecehkan dengan ucapan dan tangan. Akibatnya, jauh waktu sebelum pertandingan usai mereka lebih memilih meninggalkan stadion.Kedua, vandalisme dan brutalisme di dalam stadion terjadi diakibatkan karcis yang murah. Stadion yang ada di Indonesia rata-rata memiliki kapasitas yang cukup besar dari 35.000 kursi hingga 100.000 kursi. Ketika harga tiket murah maka siapa saja bisa membeli. Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa mental orang Indonesia tidak siap kalah maka yang hadir dalam stadion itu mayoritas adalah orang-orang yang tidak siap kalah. Dengan demikian maka hal-hal seperti melempari pemain dan suporter tamu, membunyikan petasan, dan menggunakan laser pasti akan dilakukan bila Timnas Indonesia mengalami masa-masa yang sulit.Untuk mengurangi brutalisme dan vandalisme salah satu kiatnya adalah menaikkan harga tiket. Dengan harga tiket yang mahal tentu orang-orang yang masuk akan lebih terseleksi. Mereka yang membeli tiket yang 'mahal' itu adalah orang-orang yang serius dan mempunyai tujuan untuk menikmati pertandingan bukan berbuat keonaran. Orang-orang yang ingin serius menonton dan menikmati pertandingan itulah yang membuat suasana stadion menjadi lebih terkendali. Lalu bagaimana penonton yang lain? Kan setiap ada pertandingan timnas, stasiun-stasiun televisi yang ada yang menyiarkan secara langsung. Silahkan saja yang lain menonton televisi. Namun sepertinya, panitia selalu menganggap penting suporter sehingga mereka diundang untuk datang ke stadion dengan harga tiket yang murah. Ada yang mengganggap bahwa kedatangan suporter adalah salah satu bagian untuk memenangkan pertandingan. Lewat suporter, wasit dan tim lawan diteror dengan tindakan brutal dan vandal sehingga menyurutkan semangat tim dan suporter tamu saat bertanding. Jadi oleh sebagaian orang, brutalisme dan vandalisme dibutuhkan. Ketiga, bisa jadi sanksi AFC yang dijatuhkan ke Timnas Indonesia itu merupakan bentuk masih adanya konflik di tubuh PSSI. Ada orang-orang tertentu yang membisiki kepada AFC agar menjatuhkan sanksi kepada AFC. Apakah hal yang demikian bisa terjadi? Bisa saja. Bisikan itu dilakukan agar PSSI jatuh martabatnya sehingga perlu dilakukakan tindakan-tindakan penyelamatan, misalnya kongres luar biasa. Lobby-lobby di AFC dan FIFA merupakan hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang asli PSSI atau oknumnya. Mereka melobby untuk kepentingan golongannya. Salah satu lobby yang positif dilakukan adalah bagaimana agar Indonesia tidak diberikan sanksi oleh FIFA ketika ada dualisme kepengurusan PSSI. Melobby FIFA saja bisa apalagi AFC. Ardi WinangunPengamat dan Penggemar Sepakbola (//mbs)
Mengapa Indonesia Dihukum AFC?
Written By Unknown on Jumat, 04 Oktober 2013 | 00.42
Related Articles
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Label:
Mengapa
0 komentar:
Posting Komentar